Teknik
kursi kosong adalah suatu cara untuk mengajak klien agar mengeksternalisasikan
introyeksinya. Dalam teknik ini dua kursi diletakkan di tengah ruangan.
Konselor meminta klien duduk di kursi yang satu dan meminkan peran sebagai top
dog, kemudian berpisah ke kursi lain menjadi under dog. Dialog bisa
dilangsungkan diantara kedua sisi klien. Melalui teknik ini
introyeksi-introyeksi bisa dimunculkan ke permukaan, dank lien bisa mengalami
konflik lebih penuh. Konflik bisa diselesaikan melalui permainan dan integrasi
kedua sisi kepribadian klien. Teknik ini membantu klien agar bisa berhubungan
dengan perasaan atau sisi fari dirinya sendiri yang diingkarinya; klien
mengintensifkan dan mengalami secara penuh perasaan-perasaan yang bertentangan,
ketimbang hanya membicarakannya. Selanjutnya dengan membantu kien untuk
menyadari perasaan adalah bagian dari yang sangat nyata, teknik ini mencegah
klien memisahkan perasaan. Teknik ini juga bisa membantu klien untuk mengetahui
introyeksi-introyeksi parental yang tidak menyenangkan. Contohnya, mungkin
klien berkata, “Itu kedengarannya mirip dengan apa yang dikatakan oleh
ayah saya terhadap saya!”
introyeksi-introyeksi parental dapat menyebabkan permainan “menyiksa diri”terus
berlangsung selama klien mempertahankan perintah-perintah orang tuanya yang
digunakan untuk menghukum dan mengendalikan diri sendiri.
Berikut ini salah satu contoh pendekatan konseling gestalt menggunakan teknik kursi kosong
7 komentar:
wauuuuuu,,, kereeen mennn. (y)
WAAAWWWW... kursi kosoong..??
setan dooonk.. hahahahaaa
We owe....
bagus
like this mba,,,,,,,,,, :)
goooodd.....
thx all... *_^
Posting Komentar